Pengembangan
wahana/forum psm
OLEH :
-
Selviana M
-
Selviani T
-
Siska L
-
Septyani S
-
Shinta I
-
Sarnita P
-
Yuliana Ratna K
SEkoLAH
TINGGI ILMU KESEHATAN
LAKIPADADA
TANA TORAJA
2013/2014
Kata Pengantar
Dengan
memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan
rahmat dan karunianya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah
Askeb V Komunitas mengenai Pengembangan Wahana/ Forum PSM. Saya menyadari
terselesainya penyusunan makalah ini berkat adanya bantuan dan kerjasama yang
baik dari berbagai pihak. Untuk itu dalam kesempatan ini saya mengucapkan
terima kasih kepada seluruh rekan yang selalu sabar dan ikhlas membantu dalam
penyelesaian makalah ini.
Saya juga menyadari akan kekurang
sempurnaan penulisan makalah ini oleh karena itu kritik dan saran selalu saya
harapkan untuk bahan perbaikan di kemudian hari. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi semua pembaca. Amin
Makale,
7 Maret 2014
Penulis,
DAFTAR ISI
Halaman
Judul........................................................................................i
Kata
Pengantar......................................................................................ii
Daftar Isi..............................................................................................iii
BAB I PENDAHULAN
A.
Latar Belakang......................................................................................1
B.
Tujuan....................................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN
A.
Posyandu
1.
Pengertian........................................................................................3
2.
Tujuan Posyandu.............................................................................3
3.
Kegiatan
Pelayanan di Posyandu....................................................4
4.
Sasaran
Posyandu............................................................................5
5.
Manfaat
Posyandu...........................................................................6
6.
Cara
Menyelengarakan Posyandu...................................................7
7.
Sistem
Informasi di Posyandu (sistem 5 meja).............................10
8.
Pelayanan
Posyandu......................................................................11
B.
Polindes
1.
Pengertian......................................................................................12
2. Syarat
pondok bersalin..................................................................12
3. Tujuan
Polindes.............................................................................14
4.
Fungsi
Polindes.............................................................................14
5.
Kegiatan-Kegiatan
Polindes..........................................................15
6.
Pembinaan dan
Pengawasan..........................................................16
7.
Pembiayaan...................................................................................16
8.
Perizinan........................................................................................16
9.
Indikator
Polindes.........................................................................16
10. Kategori Tingkat Perkembangan Polindes....................................18
11. Unsur
Polindes..............................................................................20
C.
KB – KIA
1.
Pengertian......................................................................................20
2.
Tujuan............................................................................................21
3.
Kebijakan......................................................................................21
4.
Materi
Kegiatan.............................................................................22
5.
Kegiatan yang Dilakukan..............................................................22
6.
Pelaksana.......................................................................................22
7.
Faktor Penentu
Keberhasilan........................................................23
D.
Dasa
Wisma.........................................................................................23
E.
Tabulin
1.
Definisi..........................................................................................24
2.
Tahapan
Tabulin............................................................................24
3.
Tujuan............................................................................................25
F.
Donor Darah
Berjalan.........................................................................25
G.
Ambulan Desa
1.
Pengertian......................................................................................29
2.
Sasaran..........................................................................................29
3.
Kriteria..........................................................................................29
4.
Indikator Proses
Pembentukan Ambulan Desa.............................30
BAB III PENUTUP
A.
Kesimpulan..........................................................................................31
B.
Saran....................................................................................................31
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu indicator kesejahteraan suatu bangsa
adalah derajat kesehatan masyarakat. Masyarakat merupakan subsistem dari sistem
bangsa yang memegang peranan penting khususnya dalam masalah kesehatan.
Masyarakat merupakan sumber daya yang dapat digunakan untuk mewujudkan derajat
kesehatan, sumber daya tersebut diwujudkan dalam peran serta masyarakat.
Membina peran serta masyarakat adalah
pengembangan wahana yang ada dengan menggunakan pendekatan edukatif dan
persuasif, sehingga wahana peran serta masyarakat dapat berkembang secara maksimal. Bentuk wahana peran serta masyarakat di antaranya adalah Posyandu, Dasawisma, dan Tabulin.
Pengembangan pelayanan kesehatan di posyandu
meliputi : KIA, KB, imunisasi, perbaikan gizi dan penanggulangan diare
mempunyai kontribusi terhadap penurunan AKB dan anak balita. Adanya
keterbatasan dalam pelayanan yaitu pelayanan kesehatan bagi ibu tidak dapat
dilaksanakan dengan baik, sehingga perlu diupayakan peningkatan pelayanan
kesehatan ibu melalui polindes. Adanya kebijakan dari Departemen Kesehatan
untuk menemparkan tenaga bidan di desa di bawah pembinaan dokter puskesmas.
B.
Tujuan
1.
Agar memahami
tentang pengembangan wahana / forum PSM berperan dalam berbagai kegiatan.
2.
Untuk
mengetahui pengertian, fungsi, tujuan, manfaat, penyelenggaraan, syarat,
sasaran, dalam setiap forum PSM.
3.
Untuk
mengetahui kegiatan apa saja yang termasuk pengembangan wahana / forum PSM.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Posyandu
1. Pengertian
a.
Posyandu
adalah suatu forum komunikasi alih teknologi dalam pelayanan kesehatan masyarakat dari keluarga berencana dari masyarakat oleh
masyarakat dan untuk masyarakat dengan dukungan pelayanan serta pembinaan
teknis dari petugas kesehatan dan keluarga berencana yang mempunyai nilai
strategi untuk pengembangan sumber daya manusia sejak dini. ( Eny Retna, 2009, Asuhan Kebidanan Komunitas).
b.
Posyandu adalah
pusat pelayanan keluarga berencana dan kesehatan yang di kelolah dan
diselanggarakan untuk dan oleh masyarakat dengan dukungan teknis dari petugas
kesehatan. ( Sriati Rismintari, 2009, Asuhan Kebidanan Komunitas ).
c.
Posyandu
merupakan upaya pemenuhan kebutuhan kesehatan dasar dan peningkatan status gizi
masyarakat ( Rita Yulifah, 2010, Asuhan Kebidanan Komunitas).
2.
Tujuan Posyandu
a.
Mempercepat
penurunan angka kematian ibu dan anak
b.
Peningkatan
pelayanan kesehatan ibu untuk menurunkan IMR
c.
Mempercepat
penerimaan NKKBS
d.
Meningkatkan
kemampuan masyarakat untuk mengembangkan kegiatan kesehatan dan
kegiatan-kegiatan lain yang menunjang peningkatan kemampuan hidup sehat.
e.
Pendekatan dan
pemerataan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dalam usaha meningkatkan
cakupan pelayanan kesehatan kepada penduduk berdasarkan letak geografi.
f.
Peningkatan dan
pembinaan peran serta masyarakat dalam rangka alih teknologi untuk swakelola
usaha-usaha kesehatan masyarakat.
3.
Kegiatan
Pelayanan di Posyandu
Kegiatan posyandu terdiri dari kegiatan utama dan kegiatan pengembangan
atau pilihan.
a.
Kegiatan utama,
sekurang-kurangnya mencakup 5 kegiatan yaitu :
i.
Kesehatan ibu
dan anak
ii.
Keluarga berencana
iii.
Imunisasi
iv.
Gizi
v.
Pencegahan dan
penanggulangan diare
b.
Tujuh kegiatan
posyandu (sapta krida posyandu)
i.
Kesehatan Ibu
dan Anak (KIA)
ii.
Keluarga
Berencana (KB)
iii.
Imunisasi
iv.
Peningkatan
Gizi
v.
Penanggulangan
Diare
vi.
Sanitasi Dasar
vii.
Penyediaan Obat
Essensial
viii.
Pembentukan
Posyandu
c.
Kegiatan
pengembangan atau pilihan, dapat menambah kegiatan baru disamping lima kegiatan
utama yang telah ditetapkan dan dilaksanakan dengan baik.
Kegiatan baru tersebut misalnya :
i.
Bina keluarga
balita (BKB)
ii.
Penemuan dini
dan pengamatan penyakit potensial kejadian luarbiasa (KLB). Misalnya : infeksi
saluran pernafasan akut, demam berdarah, gizi buruk, polio, campak dan tetanus
neonatorum.
iii.
Progam
diservikasi pertanian tanaman pangan dan pemanfaaatan pekarangan melalui tanaman obat keluarga.
iv.
Berbagai
program pembangunan masyarakat desa lainnya.
4.
Sasaran
Posyandu
Semua anggota masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan dasar yang
ada diposyandu terutama :
a.
Bayi dan anak
balita
b.
Ibu hamil, ibu
nifas, dan ibu menyusui
c.
Pasangan usia
subur
d.
Pengasuh anak
5.
Manfaat
Posyandu
a.
Bagi masyarakat
i.
Memperoleh
kemudahan untuk mendapatkan informasi dan pelayanan kesehatan bagi anak balita
dan ibu.
ii.
Pertumbuhan
anak balita terpantau sehingga tidak menderita gizi kurang atau gizi buruk.
iii.
Bayi dan balita
mendapatkan kapsul Vitamin A.
iv.
Ibu hamil juga
akan terpantau berat badannya dan memperoleh tablet tambah darah serta
imunisasi tetanus toksoid (TT).
v.
Memperoleh
penyuluhan kesehatan yang berkaitan tentang kesehatan ibu dan anak.
vi.
Apabila
mendapat kelainan pada anak balita, ibu hamil, ibu nifas menyusui dapat segera
diketahui dan dirujuk kepuskesmas.
vii.
Dapat berbagi
pengetahuan dan pengalaman tentang ibu dan anak balita.
b.
Bagi kader :
i.
Mendapatkan
berbagai informasi kesehatan lebih dahulu dan lebih lengkap.
ii.
Ikut berperan
secara nyata dalam perkembangan tumbuh kembang anak balita dan kesehatan ibu.
iii.
Citra diri
meningkat dimata masyarakat sebagai orang yang terpercaya dalam bidang
kesehatan.
iv.
Menjadi panutan
karena telah mengabdi demi pertumbuhan anak
dan kesehatan ibu.
6.
Cara
Menyelengarakan Posyandu
a.
Pengelola Posyandu
Pengelola
posyandu dipilih dari dan oleh masyarakat pada saat musyawarah pembentukan
pengurus posyandu sekurang-kurangnya terdiri dari ketua, seorang sekretaris,
dan seorang bendahara.
Kriteria pengelola posyandu :
i.
Diutamakan
adalah para dermawan dan tokoh masyarakat setempat.
ii.
Memiliki
semangat pengabdian, berinisiatif tinggi, dan mampu memotivasi masyarakat.
iii. Bersedia bekerja secara sukarela bersama masyarakat.
b.
Letak dan Lokasi Posyandu
i.
Posyandu
berlokasi disetiap desa atau kelurahan atau nagari.
ii.
Tempat penyelenggaraan posyandu sebaiknya berada
pada lokasi yang mudah dijangkau oleh masyarakat.
iii. Ditentukan oleh masyarakat itu
sendiri.
c.
Langkah-langkah
Pembentukan Posyandu
i.
Mempersiapkan
para petugas atau aparat, sehingga bersedia dan memiliki kemampuan mengelola
serta membina posyandu.
ii.
Mempersiapkan
masyarakat, khususnya tokoh masyarakat, sehingga bersedia mendukung
penyelenggaraan posyandu.
iii.
Melakukan
Survei Mawas Diri (SMD) untuk menimbulkan rasa memiliki bagi masyarakat melalui
penemuan sendiri masalah yang dihadapi serta potensi yang dimiliki.
iv.
Melakukan
Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) untuk mendapatkan dukungan dari tokoh
masyarakat sehingga pembentukan posyandu dapat diwujudkan.
v.
Membentuk dan
memantau kegiatan posyandu melalui kegiatan :
v.1. Pemilihan pengurus dan kader
posyandu.
v.2. Orientasi pengurus dan
pelatihan kader posyandu .
v.3. Pembentukan dan peresmian
posyandu.
v.4. Penyelenggaraan dan pemantauan
kegiatan posyandu.
vi. Posyandu dibentuk dari pos-pos
yang telah ada seperti pos penimbangan balita, pos immunisasi, pos keluarga
berencana, pos kesehatan, pos lainnya yang bentuk baru.
vii. Persyaratan
posyandu
vii.1. Penduduk
RW tersebut paling sedikit terdapat 100 orang balita.
vii.2. Terdiri
dari 120 kepala keluarga.
vii.3.
Disesuaikan dengan kemampuan petugas (bidan desa).
vii.4. Jarak
antara kelompok rumah, jumlah KK dalam 1 tempat atau kelompok tidak terlalu
jauh.
viii.
Alasan
pendirian posyandu
viii.1. Posyandu dapat memberikan pelayanan kesehatan khususnya dalam upaya
pencegahan penyakit dan pertolongan pertama pada kecelakaan sekaligus dengan
pelayanan KB.
viii.2. Posyandu dari masyarakat untuk masyarakat dan oleh masyarakat
sehingga menimbulkan rasa memiliki masyarakat terhadap upaya dalam bidang
kesehatan dan keluarga berencana.
d.
Pelaksanaan
Posyandu
Dilaksanakan
sekurang-kurangnya satu hari dalam sebulan. Apabila diperlukan hari buka
posyandu dapat lebih dari satu kali dalam sebulan. Hari dan waktu dipilih
sesuai kesepakatan.
7.
Sistem
Informasi di Posyandu (sistem 5 meja)
a.
Meja I
Layanan meja I merupakan layanan pendaftaran, kader
melakukan pendaftaran pada ibu dan balita yang datang ke Posyandu. Alur
pelayanan posyandu menjadi terarah dan jelas dengan adanya petunjuk di meja
pelayanan. Petunjuk ini memudahkan ibu dan balita saat datang, sehingga antrian
tidak terlalu panjang atau menumpuk di satu meja.
b.
Meja II
Layanan meja II merupakan layanan penimbangan.
c.
Meja III
Kader melakukan pencatatan pada buku KIA setelah ibu dan balita mendaftar
dan di timbang. Pencatatan dengan mengisikan berat badan balita ke dalam skala
yang di sesuaikan dengan umur balita. Di atas meja terdapat tulisan yang
menunjukan pelayanan yang di berikan.
d.
Meja IV
Diketahuinya berat badan anak yang naik atau yang tidak naik, ibu hamil
dengan resiko tinggi, pasangan usia subur yang belum mengikuti KB, penyuluhan
kesehatan, pelayanan PMT, oralit, vitamin A, tablet zat besi, pil ulangan,
kondom.
e.
Meja V
Pemberian makanan tambahan pada bayi dan balita yang datang ke posyandu
dilayani di meja V. Kader menyiapkan nasi, lauk, sayur dan buah-buahan yang
akan dibagikan sebelum pelaksanaan Posyandu. Pemberian makanan tambahan
bertujuan mengingatkan ibu untuk selalu memberikan makanan bergizi kepada bayi
dan balita.
8.
Pelayanan
Posyandu
a.
Pelayanan
kesehatan yang dijalankan
1.1.
Pemeliharaan
kesehatan bayi dan balita
1.2.
Penimbangan
bulanan
1.3.
PMT yang berta
badannya kurang
1.4.
Immunisasi bayi
3-14 bulan
1.5.
Pemberian
oralit yang menanggulangi diare
1.6.
Pengobatan
penyakit sebagai pertolongan pertama
b. Pemeliharaan kesehatan ibu hamil, ibu menyusui, dan pasangan usia subur
b.1 Pemeriksaan kesehatan umum
b.2. Pemeriksaan kehamilan dan nifas
b.3. Pelayanan peningkatan gizi melalui pemberian vitamin dan pil penambah
darah
b.4. Immnunisasi TT untuk ibu hamil
b.5. Penyuluhan kesehatan dan KB
b.6. Pemberian alat kontrasepsi KB
b.7. Pemberian oralit pada ibu yang terkena diare
b.8. Pengobatan penyakit sebagai pertolongan pertama
b.9. Pertolongan petama pada kecelakaan
B.
Polindes
1. Pengertian
Pondok
bersalin adalah suatu tempat yang didirikan oleh masyarakat atas dasar
musyawarah, sebagai kelengkapan dari pembangunan kesehatan masyarakat desa,
untuk memberikan pelayanan KIA dan KB. Pondok bersalin dikelolah oleh bidan
didesa bekerja sama dengan dukun bayi, serta dibawah pengawasan dokter
puskesmas setempat. Pertolongan persalinan yang ditangani dipondok bersalin
adalah persalinan normal.
2. Syarat
pondok bersalin
Syarat
pondok bersalin adalah :
a. Ada
bidan dan tinggal didesa
b. Tersedia
sarana dan prasarana untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsi bidan antara
lain :
b.1.
Bidan KIT.
b.2.
IUD KIT.
b.3.
Sarana imunisasi dasar dan imunisasi ibu hamil.
b.4.
Timbangan berat badan ibu.
b.5.
Pengukuran tinggi badan.
b.6.
Infuse set dan cairan dextrose 5%, Nacl 0,9%, obat-obatan sederhana dan
uterotonika
b.7.
Buku-buku pedoman KIA, KB dan pedoman kesehatan lainnya.
b.8.
Inkubator sederhana.
b.9.
Pencatatan dan pelaporan KIA(R/R).
b.10.
Penyediaan air bersih.
b.11.
Ventilasi cukup.
b.12.
Penerangan cukup.
b.13.
Tersedia sarana pembuangan air limbah.
b.14.
Ukuran 3x4 meter persegi.
b.15.
Lingkungan pekarangan bersih.
c.
Memenuhi persyaratan rumah sehat, antara lain :
c.1. Penyediaan air
bersih.
c.2. Ventilasi cukup.
c.3. Penerangan cukup.
c.4. Tersedia sarana pembuangan
air limbah.
c.5. Ukuran 3x4 meter
persegi.
c.6.
Lingkungan pekarangan bersih.
d.
Lokasi dapat dicapai dengan mudah oleh penduduk sekitarnya dan mudah dijangkau
oleh kendaraan roda 4
e.
Ada tempat untuk melakukan pertolongan persalinan dan perawatan post partum,
minimal 1(satu) tempat tidur.
3.
Tujuan Polindes
a. Umum
Memperluas jangkauan
dan mutu pelayanan dan mendekatkan pelayanan KIA termasuk KB kepada masyarakat
juga sebagai informasi kesehatan tingkat desa.
b. Khusus
b.1.
Meningkatkan jangkauan dan mutu pelayanan antenatal dan persalinan normal
bekerjasama dengan fasilitator desa.
b.2.
Meningkatkan kemitraan, pembinaan dukun
bayi dan kader kesehatan.
b.3. Meningkatkan konsultasi dan penyuluhan kesehatan bagi ibu dan
keluarganya, khususnya dalam program KIA, KB, gizi, imunisasi, dan pelayanan
penanggulangan diare dan ISPA.
b.4. Meningkatkan pelayanan kesehatan bayi dan anak serta pelayanan
kesehatan lainnya oleh bidan sesuai dengan kewenangannya.
4.
Fungsi Polindes
a.
Sebagai tempat pelayanan KIA-KB dan pelayanan kesehatan lainnya.
b.
Sebagai tempat untuk melakukan kegiatan pembinaan, penyuluhan
dan konseling KIA.
c.
Pusat kegiatan
pemberdayaan masyarakat.
d.
Sebagai tempat
pemeriksaan kehamilan dan pertolongan persalinan
5.
Kegiatan-Kegiatan
Polindes
Kegiatan
yang dilaksanakan dipolindes diatur oleh bidan disesa bekerjasama dengan dukun
paraji dan kader (posyandu, KPKIA) juga dengan fasilitator desa. Kegiatan ini
meliputi :
a.
Memeriksa kehamilan,
termasuk memberikan imunisasi TT pada bumil dan mendeteksi dini resiko tinggi
kehamilan.
b.
Menolong persalinan
normal dan persalinan dengan resiko sedang.
c.
Memberikan pelayanan
kesehatan ibu nifas dan ibu menyusui.
d.
Memberikan pelayanan
kesehatan neonatal, bayi, anak balita dan anak pra sekolah, serta imunisasi
dasar pada bayi.
e.
Memberikan pelayanan
KB.
f.
Mendeteksi dan
memberikan pertolongan pertama pada kehamilan dan persalinan yang beresiko
tinggi baik ibu maupun bayinya.
g.
Menampung rujukan dari
dukun bayi dan dari kader (posyandu, dasa wisma).
h.
Merujuk kelainan ke fasilitas
kesehatan yang lebih mampu.
i.
Melatih dan membina
dukun bayi maupun kader (posyandu, dasa wisma).
j.
Memberikan penyuluhan
kesehatan tentang gizi ibu hamil dan anak serta peningkatan penggunaan ASI dan
KB.
k.
Mencatat serta melaporkan kegiatan yang dilaksanakan
kepada puskesmas setempat.
6.
Pembinaan dan
Pengawasan
Polindes
mandiri sebagai suatu sarana yang memberikan pelayanan kesehatan di desa,
secara umum berada dibaawah bimbingan dan pengawasan kepala puskesmas setempat.
7.
Pembiayaan
Untuk
pelayanan polindes dapat dipungut biaya jasa oleh pengelola polindes yang
ditetapkan secara musyawarah bersama masyarakat (MMD) serta disesuaikan dengan
kemampuan masyarakat.
8.
Perizinan
Untuk
ketentuan serta izin polindes mandiri akan diajukan tentang regulasi/legalisasi
tentang polindes mandiri oleh pemerintah daerah.
a.
Pencatatan dan
Pelaporan
Pencatatan
dan pelaporan polindes dilaksanakan seperti yang berlaku untuk praktik bidan
secara perorangan yang terdapat pada pasal 27 Bab VII Permrnkes
No.900/Menkes/SK/VII/2002.
9.
Indikator Polindes
a. Fisik
Bangunan polindes tampak bersih, tidak ada sampah berserakan, lingkungan
yang sehat, polindes jauh dari kandang ternak, mempunyai ruangan yang cukup
untuk pemeriksaan kehamilan dan pelayanan KIA, mempunyai ruangan untuk
pertolongan persalinan, tempat yang bersih dengan aliran udara/ventilasi yang
baik dan terjamin, mempunyai perabotan dan alat-alat yang memadai untuk
pelaksanaan pelayanan.
b. Tempat tinggal bidan di desa
Keberadaan bidan secara terus menerus/menetap, jarak tempat tinggal bidan
yang menetap di desa dengan polindes akan berpengaruh terhadap kualitas
pelayanan di polindes.
c. Pengelolaan polindes
Kriteria pengelolaan polindes yang baik adalah keterlibatan masyarakat
melalui wadah kemudian dalam menentukan tarif pelayanan maka tarif yang
ditetapkan secara bersama.
d. Cakupan persalinan
Tinggi rendahnya cakupan persalinan dipengaruhi banyak faktor, diantaranya
ketersediaan sumber dana kesehatan, termasuk di dalamnya keberadaan polindes
beserta tenaga profesionalnya yaitu bidan di desa. Cakupan persalinan yang
ditolong di polindes selain berpengaruh terhadap kualitas pelayanan ibu hamil
sekaligus mencerminkan kemampuan bidan itu sendiri, baik di dalam kemampuan
teknis medis maupun di dalam menjalin hubungan dengan masyarakat.
e. Sarana air bersih
Polindes dianggap baik apabila telah tersedia air bersih yang dilengkapi
dengan MCK, tersedia sumber air (sumur, pompa, PDAM) dan dilengkapi pula dengan
SPAL.
f. Kemitraan bidan dan dukun bayi.
Merupakan hal yang dianjurkan dalam pelayanan pertolongan persalinan di
polindes, dihitung secara komulatif selama setahun.
g. Dana sehat
Diharapkan akan mampu melestarikan berbagai jenis upaya kesehatan bersumber
daya masyarakat setempat untuk itu perlu dikembangkan ke seluruh
wilayah/kelompok sehingga semua penduduk terliput dana sehat.
h. Kegiatan KIE untuk kelompok sasaran
KIE merupakan salah satu teknologi peningkatan PSM yang bertujuan untuk
mendorong masyarakat agar mau dan mampu memelihara serta melaksanakan hidup
sehat sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.
10. Kategori Tingkat Perkembangan Polindes
a. Pratama.
1)
Fisik : belum
ada bangunan tetap, belum memenuhi syarat.
2)
Tempat tinggal
bidan : tidak tinggal di desa yang bersangkutan.
3)
Pengelolaan
polindes : tidak ada kesepakatan.
4)
Cakupan
persalinan di polindes : <10 %.
5)
Sarana air
bersih : tersedia air bersih, tapi belum dilengkapi sumber air dan MCK.
6)
Cakupan
kemitraan bidan dan dukun bayi : <25 %.
7)
Kegiatan KIE
untuk kelompok sasaran : <6 kali.
8)
Dana sehat/JPKM
: <50 %.
b. Madya.
1)
Fisik : belum
ada bangunan tetap, memenuhi syarat.
2)
Tempat tinggal
bidan : > 3 km.
3)
Pengelolaan
polindes : ada, tidak tertulis.
4)
Cakupan
persalinan di polindes : 10 – 15 %.
5)
Sarana air
bersih : tersedia air bersih, belum ada sumber air, tapi ada MCK.
6)
Cakupan
kemitraan bidan dan dukun bayi : 25 – 49 %.
7)
Kegiatan KIE
untuk kelompok sasaran : 6 – 8 kali.
8)
Dana sehat/JPKM
: < 50 %.
c. Purnama.
1)
Fisik : ada
bangunan tetap, belum memenuhi syarat.
2)
Tempat tinggal
bidan : 1 – 3 km.
3)
Pengelolaan
polindes : ada dan tertulis.
4)
Cakupan
persalinan di polindes : 20 – 29 %.
5)
Sarana air
bersih : tersedia air bersih, sumber air dan MCK.
6)
Cakupan
kemitraan bidan dan dukun bayi : 50 – 74 %.
7)
Kegiatan KIE
untuk kelompok sasaran : 9 – 12 kali.
8)
Dana sehat/JPKM
: < 50 %.
d. Mandiri
1)
Fisik : ada
bangunan tetap, memenuhi syarat.
2)
Tempat tinggal
bidan : < 1 km.
3)
Pengelolaan
polindes : ada dan tertulis.
4)
Cakupan
persalinan di polindes : > 30 %.
5)
Sarana air
bersih : tersedia air bersih, sumber air, MCK dilengkapi SPAL.
6)
Cakupan
kemitraan bidan dan dukun bayi : < 75 %.
7)
kegiatan KIE
untuk kelompok sasaran : < 12 kali.
8)
Dana sehat/JPKM
: ≥ 50 %.
11. Unsur Polindes
c.
Adanya partisipasi masyarakat
Membantu penurunan AKI/AKB akibat komplikasi obstetri, khususnya AKP/AKN, dengan
mengatasi berbagai kesenjangan : Kesenjangan geografis (mendekatkan
pelayanan KIA-KB, kesenjangan informasi, kesenjangan sosial budaya,
kesenjangan ekonomi).
C.
KB-KIA
1.
Definisi
KB – KIA adalah kegiatan kelompok belajar kesehatan ibu dan anak yang
anggotanya meliputi ibu hamil dan menyusui.
2.
Tujuan
a.
Tujuan Umum
Agar ibu hamil dan menyusui tahu cara yang baik untuk menjaga kesehatan
sendiri dan anaknya, tahu pentingnya pemeriksaan ke puskesmas dan posyandu atau
tenaga kesehatan lain pada masa hamil dan menyusui serta adanya keinginan untuk
ikut menggunakan kontrasepsi yang efektif dan tepat.
b.
Tujuan Khusus
Memberi pengetahuan kepada ibu tentang hygiene perorangan pentingnya
menjaga kesehatan, kesehatan ibu untuk kepentingan janin, jalannya proses
persalinan, persiapan menyusui dan KB.
3.
Kebijakan
a.
Kegiatan harus
disesuaikan dengan kesehatan ibu dan masalah yang ada.
b.
Pelaksanaannya
dilakukan setiap minggu dengan materi dasar yang harus di review terus.
c.
Metode yang
digunakan adalah demonstrasi dengan materi dan pembicara berganti - ganti.
d.
Tenaga pelatih
atau pengajar adalah orang yang ahli di bidangnya.
e.
Tempat
pertemuan adalah di ruang tunggu puskesmas, kelurahan atau tempat lain yang
dikenal masyarakat.
f.
Lamanya
pelatihan tiap hari tidak lebih dari 1 jam.
g.
Beri teori 20
menit, selebihnya adalah demontrasi
4.
Materi Kegiatan
a.
Pemeliharaan
diri waktu hamil
b.
Makanan ibu dan
bayi
c.
Pencegahan
infeksi dengan imunisasi
d.
Keluarga
Berencana
e.
Perawatan
payudara dan hygiene perorangan.
f.
Rencana
persalinan
g.
Tanda-tanda
persalinan
5.
Kegiatan yang
dilakukan
a.
Pakaian dan
perawatan bayi
b.
Contoh makanan
sehat untuk ibu hamil dan menyusui
c.
Makanan bayi
d.
Perawatan
payudara sebelum dan setelah persalinan
e.
Peralatan yang
diperlukan ibu hamil dan menyusui
f.
Cara memandikan
bayi
g.
Demontrasi
tentang alat kontrsepsi dan cara penggunaanya
6.
Pelaksana
a.
Pelaksana utama
meliputi dokter puskesmas, pengelola KIA, Kader, Bidan.
b.
Pelaksana
pendukung meliputi camat, kades, pengurus LKMD, tokoh masyarakat.
c.
Pelaksana
pembina meliputi sub din KIA Propinsi, tim pengelola KIA kabupaten.
7.
Faktor Penentu
Keberhasilan
a.
Faktor manusia
b.
Faktor sarana
(tempat)
c.
Faktor
prasarana (fasilitas)
D.
Dasa Wisma
1.
Dasa Wisma
adalah kelompok ibu berasal dari 10 rumah yang bertetangga. Kegiatannya
diarahkan pada peningkatan kesehatan keluarga. Bentuk kegiatannya seperti
arisan, pembuatan jamban, sumur, kembangkan dana sehat (PMT, pengobatan ringan,
membangun sarana sampah dan kotoran).
2.
Dasa Wisma
adalah bagian dari organisasi PKK yang berada di tingkat paling bawah yaitu
suatu kelompok yang beranggotakan 10 KK sampai dengan 20 KK yang diketuai oleh
seseorang yang dipilih oleh mereka. Dasa Wisma mengambil peranan yang sangat
penting dan strategis dalam pemberdayaan keluarga menuju masyarakat yang
sejahtera. Banyak Program-program pokok PKK yang pelaksanaannya justru di
tingkat Dasa Wisma ini , terutama program sandang, pangan, kesehatan, pengembangan
kehidupan koperasi, pendidikan dan ketrampilan, kelestarian lingkungan hidup
dan lain-lainnya. Pembinaan Dasa Wisma sangat diperlukan guna lebih
memberdayakan anggotanya agar lebih sejahtera
E.
Tabulin
1.
Definisi
a.
Tabulin adalah tabungan sosial yang dilakukan
oleh calon pengantin, ibu hamil dan ibu yang akan hamil maupun oleh masyarakat
untuk biaya pemeriksaan kehamilan dan persalinan serta pemeliharaan kesehatan
selama nifas. Penyetoran tabulin dilakukan sekali untuk satu masa kehamilan dan persalinan
ke dalam rekening tabulin.
b.
Tabulin
(tabungan ibu bersalin) adalah uang yang dikumpulkan oleh ibu hamil dan
disimpan sendiri dirumah, dibank atau di bidan yang akan membantu persalinan.
Selain berbentuk uang ada juga “simpanan” ibu hamil bentuknya innatura,
misalnya kambing, perhiasan, dan sebagainya yang ketika waktunya tiba siap
untuk dijual dan hasilnya untuk membiatai persalinan.
2.
Tahapan Tabulin
a.
Ibu yang sudah
mengetahui kehamilannya, diminta untuk mulai menabung untuk persalinannya.
b.
Tabulin ini
sesungguhnya tabungan keluarga, bukan hanya ibu yang bertanggung jawab untuk
menyisihkan uang untuk persalinan, tetapi suami juga.
c.
Jika ibu hamil
merasa kesulitan untuk menyampaikan masalah ini kepada suaminya, maka anggota
siap antar jaga lain perlu membantu membicarakan dengan para suami.
d.
Waktu kelahiran
biasanya dapat diperhitungkan, jadi pasangan juga sudah dapat memperhitungkan
kapan dana itu dibutuhkan. Jadi warga yang tidak berpenghasilan tetap, tabulin
dapat diperhitungkan dengan masa panennya.
e.
Tabulin dalam
bentuk uang, dapat disimpan dirumah, bank, atau pada ibu bidan dapat dilakukan
setiap kali memeriksakan kehamilannya.
3.
Tujuan
a.
Meningkatkan
pemahaman, pengetahuan, pengelola dan masyarakat tentang tabulin.
b.
Meningkatkan
kemampuan para pengelola dan masyarakat dalam mengenali masalah potensi yang
ada dan menemukan alternative pemecahan masalah yang berkaitan dengan ibu hamil
dan nifas.
c.
Meningkatkan
kesadaran, kepedulian pengelola dan masyarakat dalam penggerakan ibu hamil
untuk ANC, persalinan dengan tenaga kesehatan, PNC, serta penghimpunan dana
masyarakat untuk ibu hamil, bersalin dan ambulan desa.
F.
Donor Darah Berjalan
Donor darah berjalan merupakan salah satu strategi yang dilakukan
Departemen Kesehatan dalam hal ini direktorat Bina Kesehatan Ibu. Melalui
program pemberdayaan perempuan, keluarga dan masyarakat, dalam upaya
mempercepat penurunan AKl.
Donor darah berjalan adalah para donor aktif yang kapan saja bisa
dipanggil. Termasuk kerja mobil ambulance dilapangan yang mendatangi instansi
pemerintahan dan swasta terkait sediaan darah lewat program yang mereka buat.
Untuk menguatkan program tersebut Menteri Kesehatan Dr.dr. Siti Fadilah
Supari, Sp.JP(K) mencanangkan dimulainya penempelan stiker perencanaan
Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) secara nasional. Dengan pencanangan
ini, semua rumah yang di dalamnya terdapat ibu hamil akan ditempeli stiker
berisi nama, tanggal taksiran persalinan, penolong persalinan, tempat
persalinan, pendamping persalinan, transportasi dan calon pendonor darah.
Dengan demikian, setiap kehamilan sampai dengan persalinan dan nifas dapai
dipantau oleh masyarakat sekitar dan tenaga kesehatan sehingga persalinan
tersebut berjalan dengan aman dan selamat. Kebutuhan akan darah dari tahun ke
tahun semakin meningkat yaitu mencapai 3 juta kantong per tahun. Sementara PMI
setiap tahunnya hanya dapat mengumpulkan sekitar 1.2 juta kantong. Masih
kurangnya jumlah kantong darah yang harus dikumpulkan disebabkan masih minimnya
geliat masyarakat untuk mendonorkan darah mereka. Oleh karena itu perlu
dilakukan penggalangan Donor Darah Sukarela (DDS).
Dari sudut medis tindakan menyumbang darah merupakan kebiasaan baik bagi
kesehatan pendonor. Salah satunya, dengan berdonor darah secara teratur secara
tidak langsung pendonor telah melakukan pemeriksaan kesehatan secara teratur
pula. Karena sebelum mendonorkan darah terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan
kesehatan secara lengkap.
Darah yang disumbangkan dapat expired (kedaluwarsa) bila tidak terpakai. Sel-sel darah merah harus digunakan dalam 42 hari. Platelet harus digunakan dalam 5 hari, dan plasma dapat dibekukan dan digunakan dalam jangka waktu 1 tahun. Selain itu, donor darah akan membantu menurunkan risiko terkena serangan jantung dan masalah jantung lainnya. Penelitian menunjukkan, mendonorkan darah akan mengurangi kelebihan zat besi dalam tubuh. Walau masih perlu penelitian lagi untuk memastikannya, kelebihan zat besi diduga berperan menimbulkan kelainan pada jantung. Kelebihan itu akan membuat kolesterol jahat (LDL) membentuk ateros/derosis (plak lemak yang akan menyumbat pembuluh darah).
Jika donor darah dilakukan 2-3 kali setahun, atau setiap 4 bulan sekali, diharapkan kekentalan darah berkurang sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya penyumbatan pembuluh darah. Sistem produksi sel - sel darah juga akan terus terpicu untuk memproduksi sel-sel darah baru yang akan membawa oksigen keseluruh jaringan tubuh. Sirkulasi darah yang baik akan meningkatkan metabolisme dan merevitalisasi tubuh.
Siklus pembentukan sel-sel darah baru yang lancar dan metabolisme tubuh yang berjalan baik, membuat berbagai penyakit dapat dihindarkan. Selama 24 jam setelah berdonor maka volume darah akan kembali normal. Sel-sel darah akan dibentuk kembali dalam waktu 4-8 minggu.
Darah yang disumbangkan dapat expired (kedaluwarsa) bila tidak terpakai. Sel-sel darah merah harus digunakan dalam 42 hari. Platelet harus digunakan dalam 5 hari, dan plasma dapat dibekukan dan digunakan dalam jangka waktu 1 tahun. Selain itu, donor darah akan membantu menurunkan risiko terkena serangan jantung dan masalah jantung lainnya. Penelitian menunjukkan, mendonorkan darah akan mengurangi kelebihan zat besi dalam tubuh. Walau masih perlu penelitian lagi untuk memastikannya, kelebihan zat besi diduga berperan menimbulkan kelainan pada jantung. Kelebihan itu akan membuat kolesterol jahat (LDL) membentuk ateros/derosis (plak lemak yang akan menyumbat pembuluh darah).
Jika donor darah dilakukan 2-3 kali setahun, atau setiap 4 bulan sekali, diharapkan kekentalan darah berkurang sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya penyumbatan pembuluh darah. Sistem produksi sel - sel darah juga akan terus terpicu untuk memproduksi sel-sel darah baru yang akan membawa oksigen keseluruh jaringan tubuh. Sirkulasi darah yang baik akan meningkatkan metabolisme dan merevitalisasi tubuh.
Siklus pembentukan sel-sel darah baru yang lancar dan metabolisme tubuh yang berjalan baik, membuat berbagai penyakit dapat dihindarkan. Selama 24 jam setelah berdonor maka volume darah akan kembali normal. Sel-sel darah akan dibentuk kembali dalam waktu 4-8 minggu.
Adapun donor darah dapat
dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu :
1. Fasilitasi warga untuk menyepakati
pentingnya mengetahui golongan darah.
2. Jika warga belum mengetahui
golongan darahnya, maka perlu dilakukan pemeriksaan golongan darah bagi seluruh
warga yang memenuhi syarat untuk menjadi donor darah.
3. Hubungi pihak Puskesmas untuk
menyelenggarakan pemeriksaan darah. Jika Puskesmas tidak mempunyai layanan
pemeriksaan darah, maka mintalah Puskesmas melakukan rujukan. Jika diperlukan
hubungi unit tranfusi darah PMI terdekat.
4. Buatlah daftar golongan darah
ibu hamil dan perkiraan waktu lahir, kumpulkan nama warga yang mempunyai
golongan darah yang sama dengan ibu hamil. Catat nama dan alamat mereka ataupun
cara menghubungi yang tercepat dari semua warga yang bergolongan darah sama
dengan ibu hamil.
5. Usahakan semua ibu hamil
memiliki daftar calon donor darah yang sesuai dengan golongan darahnya.
6. Buatlah kesepakatan dengan
para calon donor darah untuk selalu siap 24 jam, sewaktu-waktu ibu hamil
memerlukan tranfusi.
7. Buat kesepakatan dengan Unit
Tranfusi darah, agar para warga yang telah bersedia menjadi pendonor darah
diprioritaskan untuk diambil darahnya, terutama tranfusi bagi ibu bersalin yang
membutuhkannya.
8. Kader berperan memotivasi
serta mencari sukarelawan apabila ada salah seorang warganya yang membutuhkan
darah.
G. Ambulan
Desa
1.
Pengertian
a.
Ambulan desa
adalah salah satu bentuk semangat gotong royong dan saling peduli sesama warga
desa dalam sistem rujukan dari desa ke unit rujukan kesehatan yang berbentuk
alat transportasi.
b.
Ambulan desa
adalah suatu alat transportasi yang dapat digunakan untuk mengantarkan warga
yang membutuhkan pertolongan dan perawatan di tempat pelayanan kesehatan.
2.
Sasaran
Pihak-pihak yang berpengaruh terhadap perubahan prilaku individu dan
keluarga yang dapat menciptakan iklim yang kondusif terhadap perubahan prilaku
tersebut. Semua individu dan keluarga yang tanggap dan peduli terhadap
permasalahan kesehatan dalam hal ini kesiapsiagaan memenuhi sarana transportasi
sebagai ambulan desa.
3. Kriteria
a. Kendaraan yang bermesin yang sesuai standart (mobil sehat)
b. Mobil pribadi, perusahaan, pemerintah pengusaha .
c. ONLINE (siap pakai)
4. Indikator Proses Pembentukan
Ambulan Desa
a.
Ada forum
kesehatan desa yang aktif
b.
Gerakan bersama
atau gotong royong oleh masyarakat dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah kesehatan.
bencana serta kegawat daruratan kesehatan dengan pengendalian faktor resikonya.
c.
UKBM
berkualitas.
d.
Pengamatan dan
pemantauan masalah kesehatan.
e.
Penurunan kasus
masalah kesehatan, bencana atau kegawat daruratan kesehatan.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1. Pengembangan wahana / forum PSM berperan dalam kegiatan posyandu, polindes,
KB – KIA, dasa wisma, tabulin, donor darah berjalan, dan ambulan desa.
2. Merupakan kegiatan terpadu dengan mempertimbangkan seluruh aspek kehidupan
masyarakat dan merupakan suatu proses yang berkesinambungan dengan
mengoptimalkan sumber daya yang ada.
3. Dari setiap forum PSM tersebut memiliki tujuannya masing-masing,
kegiatannya berbeda-beda, tapi secara umum tujuan dari dibentuknya forum
tersebut ialah untuk mencapai kesejahteraan keluarga.
4. Setiap kegiatan dari wahana tersebut selalu melibatkan masyarakat,
keluarga, bahkan aparat-aparat pemerintah daerah setempat.
B.
Saran
Sebaiknya masyarakat ikut berpartisipasi dalam pengembangan wahana / forum
PSM dan dapat memanfaatkan kegiatan pengembangan wahana dengan baik agar terwujud perilaku hidup sehat.
Sabagai seorang bidan atau kader sebaiknya lebih mengenali lingkungan yang
ada dikomunitasnya agar memudahkan dalam melakukan berbagai kegiatan yang
berkaitan dengan tugas dan tanggung jawabnya.
DAFTAR PUSTAKA
Ambarwati,
Eny Retna, S.Sit dan Y Sriati Rismintari,S.Sit. 2009. Asuhan Kebidanan Komunitas. Numed : Yogyakarta.
Karwati, SST,dkk. 2010. Asuhan
Kebidanan V ( Kebidanan Komunitas ). Jakarta : Trans Info Media.
smoga bisa jd bu bidan yg profisional,oce.......:D
BalasHapusamin,,,,amin...amin...Upin Ipin kali,,,hehehehe...
Hapustrm ksh sisca...akhirnya aku dapat tugasku dari makalah kamu,,,tq....
BalasHapussama2 devi sapan,,,smg bermanfaat ya,,,,
HapusTerimakasih kak siska.... Materinya lengkap buuanggettt tinggal dikopas ajj...hehehehehhe sgt mmbntu.
BalasHapussmg bermanfaat ya..^-^
Hapusmantap blognya dan sangat bermanfaat
BalasHapus